Opini: By Ahmad Bahtiar : Pimred Dibranding.id
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah langkah progresif yang bukan hanya menjawab kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga menghadirkan efek berantai yang luas bagi pembangunan ekonomi dan pendidikan. Dalam perspektif jangka panjang, program ini bisa menjadi salah satu fondasi kuat untuk memutus rantai kemiskinan sekaligus membangun sumber daya manusia unggul.
- MBG sebagai Penggerak Ekonomi Rakyat
Setiap kali sebuah program menyentuh jutaan penerima manfaat, rantai ekonominya pun ikut bergerak. MBG membutuhkan beras, telur, sayur, buah, hingga daging dalam jumlah besar dan berkesinambungan. Permintaan yang masif ini secara langsung memberi dampak pada sektor pertanian, peternakan, dan perdagangan lokal.
Petani mendapatkan pasar tetap untuk hasil panennya, peternak memiliki kepastian penjualan, dan pelaku UMKM seperti katering atau transportasi logistik ikut tumbuh. Dengan demikian, MBG berperan sebagai mesin penggerak ekonomi kerakyatan. Ia bukan hanya konsumtif, tetapi menciptakan siklus produktif yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat.
Di tengah tantangan ekonomi global yang tidak menentu, adanya program dengan jaminan permintaan bahan pangan dalam jumlah besar justru memberikan stabilitas bagi pasar domestik. Ini adalah multiplier effect yang sering kali luput dilihat: bahwa kebijakan sosial dapat sekaligus menjadi instrumen pertumbuhan ekonomi.
- MBG Membangun Simpul Pendidikan Dinamis
Tidak dapat dipungkiri, anak-anak yang mendapatkan gizi seimbang memiliki daya konsentrasi lebih baik, ketahanan tubuh lebih kuat, dan prestasi akademik yang lebih stabil. MBG secara langsung mendukung tercapainya hak anak atas gizi dan pendidikan yang layak.
Sekolah bukan lagi hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga simpul yang mengintegrasikan pendidikan dengan pemenuhan hak dasar. Program MBG menjadikan sekolah sebagai pusat layanan gizi, kesehatan, sekaligus pendidikan karakter. Inilah yang dimaksud dengan simpul pendidikan dinamis: ruang belajar yang hidup, sehat, dan mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Dengan kata lain, MBG memperkuat basis pembangunan manusia. Gizi baik sejak dini adalah investasi yang tidak ternilai, karena generasi yang sehat adalah modal utama bangsa menghadapi tantangan masa depan.
- Ujian dan Kekurangan: Bagian dari Proses
Benar, MBG tidak bebas dari masalah. Kita sudah melihat adanya ujian berupa kasus keracunan makanan, kendala logistik, hingga kekurangan bahan baku. Kritik muncul, dan itu wajar. Namun, harus dipahami bahwa setiap program besar selalu menghadapi “biaya pembelajaran” (learning cost).
Yang terpenting adalah bagaimana sistem mampu menjadikan setiap kelemahan sebagai bahan evaluasi. Keracunan misalnya, bisa menjadi momentum untuk memperkuat standar keamanan pangan dan memperbaiki SOP distribusi. Kekurangan bahan baku mendorong lahirnya inovasi dalam diversifikasi menu serta penguatan rantai pasok lokal. Dengan begitu, ujian tidak dilihat sebagai kegagalan, melainkan peluang perbaikan berkelanjutan.
- Hak Penerima Manfaat: Janji yang Harus Ditunaikan
Esensi dari MBG adalah memastikan setiap penerima manfaat mendapatkan haknya secara penuh: makanan sehat, bergizi, dan layak. Hak ini tidak boleh ditawar-tawar, karena ia berkaitan langsung dengan kelangsungan hidup, kesehatan, dan masa depan generasi penerus bangsa.
Jika sistem tata kelola semakin transparan, pengawasan diperkuat, dan partisipasi masyarakat dilibatkan, maka jaminan hak penerima manfaat akan lebih terwujud. MBG pada akhirnya bukan hanya program pemerintah, melainkan menjadi gerakan kolektif bangsa untuk memastikan tidak ada anak yang belajar dalam keadaan lapar.
Kesimpulan
Optimisme terhadap MBG berangkat dari kenyataan bahwa program ini mampu bekerja di tiga jalur sekaligus:
- Mendorong ekonomi kerakyatan melalui perputaran rantai pasok pangan.
- Membangun simpul pendidikan dinamis yang menyatukan gizi, kesehatan, dan pembelajaran.
- Menjamin hak penerima manfaat dengan memberikan makanan bergizi yang layak.
Tantangan memang ada, ujian pun tak bisa dihindarkan. Tetapi justru dari sana, perbaikan terus dilakukan. Dengan manajemen yang adaptif, komitmen politik yang kuat, serta partisipasi masyarakat, MBG dapat menjadi tonggak penting pembangunan manusia Indonesia—yang sehat, cerdas, dan sejahtera.
